Minggu, 08 April 2012

Ma'na dari Tashawwuf.


                                                                                    
                                                                         
                                                                 I L M U   T A S H A W W U F             
      
         A.      Arti dan ma’na dari Tashawwuf.
Lafadz  tashawwuf  yaitu suatu masdar dari lafadz  tashawwafa,  yatashawwafa- tashawwufan yaitu madlikhumasi dari fiil tsulatsi yang mendapat tambahan  ta’  pada permulaannya dan mendapat tambahan syiddah pada {‘ain fi’il}. Adapun tsulatsi dari lafadz  tashawwufa adalah shaafa yang artinya banyak bulu. Menurut  ilmu  sharaf  bila ada  wajan  tafa’ala mengandung arti  shaerurah (menjadi).  Maka jika dikatakan : tashawwafa fulaanun  maka akan berarti : qad shara fulaanun  shufian artinya : si fulan itu telah berpindah dari kehidupan biasa menjadi kehidupan-shufi (menjadi seorang shufi). Apa sebab dikatakan demikian ? sebab para shufi senang memakai  pakaian dari bulu  karena merendahkan diri supaya tidak dikenal di dalam masyarakat. Adapun secara istilah ada beberapa pendapat : 
a).      Junaed Al- Baghdadi.
“Tashawwuf ialah hendaknya keadaanmu beserta Allah tanpa adanya perantara.’’  
b).      Ma’aruf  Al-Karakhi.
“Tashawwuf adalah mencari hakikat dan meninggalkan dari segala sesuatuyang ada pada tangan makhluq.”
c).       Dhun Nun Al-Misri.
“Shufi adalah orang yang  tidak payah karena mencari dan tidak susah  karena         musnahnya milik.”
d).     Sahal  At-Tasturi.
“Shufi adalah orang yang bersih dari kotoran-kotoran (kekeruhan) dan penuh pemikiran dan hanya  memusatkan  pada  Allah semat-mata tanpa manusia, dan sama baginya harta benda dengan tanah liat.”  
e).      Ibnu Khaldun.
“Tashawwuf itu adalah  semacam  ilmu syariat yang timbul kemudian di dalam agama, asalnya ialah bertekun beribadah  dan  memutuskan Spertaliannya dengan segala selain Allah, hanya mendhadap Allah semata, menolak hiasa-hiasan dunia serta  membenci   perkara-perkara  yang  selalu  dan  memperdaya  orang banyak,  kelazatan  harta  benda  dan kemegahan, dan menyendiri  menuju jalan   Tuhan dalam ibadah.”
f ).      Dr. Hamka.
“Tashawwuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh  benda atau alam supaya    dia mudah menuju kepada  Allah.”               
Demikianlah diantara ma’na-ma’na tashawwuf yang diambil dari pendapat - pendapat  tokoh-tokoh shufi dan arief billah. Dari ma`na diatas Smaka dapat kita ambil kesimpulan :
a).      Tashawwuf ialah mendekatkan diri pada Allah dengan ibadath dan menghias diri dengan sifat–sifat terpuji disamping merasa cukup terhadap pemberian Allah atas dirinya. 
b).     Tashawwuf adalah merupakan cabang dari agama.
c).     Tashawwuf adalah lebih mengutamakan kesucian jiwa dari hiasan-hiasan duniawi.
{1}.    Asal nama Tashawwuf  dan mulai penggunaannya.
 Diatas sudah kita ketahui asal kata tashawwuf dari kata shaafa yang mempunyai katabenda``shuuf``artinya bulu. Tapi selain itu masih banyak pendapat-pendapat yang menyatakan asal tashawwuf diantaranya ialah :                                                             
{a}.  Berasal  dari  kata  shuufah   artinya  sepotong  dari  bulu,  sebab  mereka ini tidak diperhatikan oleh khalayak ramai sebagaimana sepotong bulu yang dibuang. Orang yang berpendapat demikian ini karena menyamakan shuufi dengan kuufi nisbat dari khuufa. Jadi shufi adalah nisbat dari shuufah.
{b}.    Atau  berasal  dari  kata  shaff   yang  artinya  barisan, sebab orang-orang shufi suka  memilih shaff  awal apa bila shalat berjamaah.
{c}.   Ada  juga  yang  mengatakan  dari  kata  shifah  sebab  orang-orang   shufi   senang membicarakan sifat-sifat Allah atau karena berusaha merealisir shifat-shifat baik pada dirinya.     
{d}.  Berasal dari kata shuffah yaitu suatu kamar disisi mesjid Rasulullah yang disediakan untuk para faqier  Muhajirin di zaman Nabi s.a.w. Jadi pendapat ini menyamakan ahli tashawwuf  dengan ahli shuffah karena mereka berkumpul, berkasih – kasihan, bersahabatan demi Allah  dan  untuk  Allah.
{e}.    Atau mungkin dari kata shafaa yang artinya bersih, karena meraka selalu berusaha membersihkan diri  dari  sifat- sifat  yang tercela dan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji.
Demikianlah diantara pendapat-pendapat tentang asal kata shufiah atau tashawwuf dari beberapa kitab. Akan tetapi  dari sekian  banyaknya  pendapat  tentang asal kata  shufiah atau tashawwuf tidak ada pendapat yang lebih kuat dari pada pendapat yang mengatakan bahwa tashawwuf itu dari kata shuuf.  Sebab kata shuuf ini sebagai kata dasar, jadi tujuannya dari segi nyatanya. Sedangkan pendapat lainnya hanya berdasar  kan kepada keadaan, tinjauannya adalah dari segi ma`nawi.
Ibnu Taimiyah dalam akhir uraiannya tentang asal shufiah mengatakan bahwa qaul yang  terkenal :  bahwasanya  shufiah  adalah  nisbat dari   kata  shuf  dan  riwayat ini adalah  yang   paling   dekat   untuk   bisa   diterima   dalam  suatu   alasan.   Hal ini dikemukakan setelah beliau membantah pendapat – pendapat yang mengatakan bahwa kata shufiah asal dari ahli shuffah dan shaff. Sebab andaikata dari kata shoff  maka akan disebutkan : shuuffiun, dan andaikata dari kata shaff maka akan dikatakan shaffiun
Mengenai   masalah   dimulainya   penggunaan   nama   tashawwuf   ini, dalam kitab Awariful - Ma`arif telah menuturkan beberapa pendapat.
{a}.   Pendapat yang mengatakan bahwa dimulainya kata tashawwuf  atau shufi ada zaman tabiin, sebagaimana Hasan Basri seorang tabiin pernah berkata :
Aku melihat seorang shufi diwaktu thawaf, maka kuberikan padanya seseutu, dia  tidak mengambil dan berkata : aku punya uang empat daniq  (2/3 dirham) kiranya mencukupi apa yang ada padaku.”
Pendapat ini dikuatkan pula dengan apa yang diriwayatkan dari Sufyan bahwa beliau  berkata :
“Andaikata  bukan  Abu  Hasyim  yang  ahli  tashawwuf  itu  maka  aku  tidak  mengtahui tentang ( ria )  yang sangat kecil.”
{b}.    Ada pendapat yang mengatakan bahwa kata tashawwuf  baru dikenal setelah tahun 200 H.   Pendapat ini beralasan bahwa  orang-orang di waktu Rasulullah s.a.w, itu digelari Shakhabiyin tidak memakai  istilah  mustashawwifin demikian   pula  pada  waktu zaman tabiin,  disebut tabiiyin. Adapun nama tashawwuf secara resmi dipergunakan adalah setelah jauh dari zaman nubuwwah, dimana pendapat-pendapat saling simpang siur, di mana orang-orang muttaqien gelisah, orang-orang bodoh berkuasa, sehinggah orang - orang Zahidin muttawin menyendiri atau mengasingkan diri dengan amal-amal yang shaleh dan tingkah-laku yang baik,kuat dalam beragama, Zuhud dalam dunia, mereka membuat pondok-pondok untuk berkumpul pada suatu saat dan berpisah pada saat  yang lain mereka mencontoh ahli suffah.  Pada saat-saat demikian ini maka lahirlah nama tashawwuf untuk menjadi pengenal (tanda, sebutan) bagi mereka.
{2}.       Sumber – sumber  Tashawwuf.
 Apabila kita  cari  sumber-sumber  tashawwuf  di dalam  Al-Qur’an atau  Al-Hadits maka  banyak  sekali  kita dapati  ayat-ayat atau hadits, yang berfungsi sebagai sumber dari pada tashawwuf. Oleh karena itu akan dituturkan beberapa ayat dan Al-Hadits.
Sebagaimana  firman Allah didalam Al-Qur’an :
“Qul  in-kuntum  tuhibbunallaha  fattabi-‘uniy  yuhbib-kumullahu wayaghfir  lakum  dzunubakum,  wallahu  ghafurun  rahii-mun.”
“Katakanlah : “ Jika kamu  (benar-benar ) mencintai  Allah ikutlah aku, niscaya  Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha  penyayang.’’(QS. Ali ‘Imran, 31).
“Yaa  aiyyuhalladzii-na  aamanudz  kurullaha  dzikran  kasyiyranw  wasabbihu-hu  bukratan  wa – ashiylan.  
Hai  orang-orang yang beriman,  berdzikirlah  (dengan menyebut nama) Allah,  dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlahlah kepada-Nya diwaktu pagi  dan petang.’’ (QS.  Al-Ahzab, 41-42 ).
“Wa-idzasa-alaka ‘ibadii ‘anni fainni qariybun, ujiybu da’wataldda-‘i  idzada‘ani, falyastajiybuli walyuk minuubi la’allahum  yarsyuduuna.”
 “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat ; mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepadaKu. Maka hendaklah mereka it mematuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka selalu dalam kebenaran.’(QS. Al-Baqarah. 186).
Sebagai mana tertuang didalam  Al-Hadits :
“Dari Abu Hurairah beliau berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : berfirman  Allah Maha Mulia dan Maha Agung. Aku adalah menurut persangkaan hambaKu pada diriKu dan Aku besertanya dikala ia menyebut asmaKu.  Apabila ia menyebut pada dirinya secara sirri, maka Akupun akan menyebutnya dengan pahala dan rahmat secara rahasia. Andai kata ia menyebutKu pada suatu perkumpulan yang lebih baik. Dngkaan andai kata ia mendekat padaKu dengan sejengkal, maka Aku  akan mendekatnya dengan satu elo, (dari siku sampai ke ujung jari) selanjutnya bila ia mendekat  padaKu satu elo, maka Aku dekati ia sehasta. Dan jika ia datang padaKu dengan berjalan,maka Aku akan datang padamu dengan cepat-cepat’’.(H.R, Muslim).
Ayat-ayat dan hadits tersebut diatas dapat  menjadi  sebagai sumber dari pada tashawwuf, sebab kesemuanya tadi menunjukkan cinta pada Allah, cinta pada Rasul, mengikuti jejak lakunya, berdampingan dengan rahmat Allah, adanya pengawasan Allah terhadap segala perbuatan kita, dimana hal-hal tersebut adalah merupakan inti sari dari tashawwuf, merupakan suatu keni’matan bagi orang-orang shalikin, orang orang yang menuju jalan akhirat,  ma’rifat billah, cinta Allah, rindu padaNya dengan berbagai jalan dan latihan, terutama dengan ibadah dan dzikir, tadarru dan berdoa.
Di setiap peristiwa kita ucapkan dzikir, kita sebut nama Allah, nama Dzattullah yang kita cintai dan kita rindui.  Dzikir bukan semata-mata dengan lisan, tetapi harus kita ikuti dengan kesadaran dan ingatan yang mendalam sekali.  Ingat kepada  Allah berarti ingat kebesaranNya, kejayaanNya, kemuliaanNya dan segala kekuasaanNya.  Sebaliknya orang yang lupa akan Allah, akan besar sekali bahayanya, sebab dia akan berbuat kejahilan, kesewenang - wenang dan akan menuruti hawa nafsunya.  Jika manusia lupa akan Allah, cepat-cepatlah kembali berdzikir, dzkir itu akan membangunkan jiwa, membersikan qalbu (hati) dan menenangkannya, sehinggatercapailah nafsul muthmainah (jiwa yang tenang) yang kembali kepada Allah, ridha dan diridhai. Allah telah memperingatkan kita bahwasanya dengan berdzikir akan tercapai ketenangan bathin.   
Sebagaimana di dalam  Al-Qur’an mengatakan :   
“Alladziina  na-amanu  watathma-innu  quluubuhum  bidzikrillahi,   alaa bidzikrillahi  tathma-innul  quluubu.”
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.’’ (Q.S.  Ar-Ra’d. 28)
Sehubungan dengan ayat tersebut diatas, Asy Syaikh Muhammad Nawawi  dalam menerangkan bersihnya dan bercahayanya qalbu sebab dzikir dalam kitabnya tafsir Munir menyatakan sebagai berikut :
Sesungguhnya sebagian kecil  (pecahan)  emas apabila  jatuh  diatas  benda sebangsa kuningan atau tembaga walaupun hanya sebesar biji sawi maka  menjadikan benda tersebut berkilauan sebagai emas sepanjang zaman. Demikian pula sebagian kecil sifat keagungan Tuhan apa bila bersemayam pada hati seseorangmaka akan lebih bisa mengalihkan hati tersebut menjadi bersinar seperti mutiara yang bersih bening lagi bersinar dengan tidak menerima perubahan.’’
Demikianlah keterangan Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi dalam menafsir ayat tersebut atas, dimana beliau menggambarkan betapa besarnya faedah berdzikir sehingga menjadikan hati menjadi bersih, dan bersinar sebagai hati yang bisa dibuat modal untuk menenangkan jiwa, jiwa yang pantas kembali kepada Tuhan dengan penuh ridha dan di ridhai penuh rindu dan cinta mahabbah, cinta pada  Allah, cinta yang murni dengan realisasi dengan mengikuti jejak Rasulullah s.a.w, bukan suatu cinta palsu, cinta hanya pengakuan saja tanpa adanya realita.
Dengan meninjau kepada uraian tersebut diatas baik yang berlandaskan penafsiran suatu ayat atau perkataan dan pernyataan seorang tokoh shufi dan kenyataan tingkah laku shufi haqiqi dalam catatan sejarah beliau sesuai dengan ketentuan ketentuan  syara’  maka kiranya cukup alasan untuk bisa diambil kesimpulan bahwa  :   
a).  Tashawwuf  adalah bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadit.
b).  Ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Hadits  yang telah dikemukakan adalah  bisa dinilai sebagai sumber dari pada tashawwuf.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar